Membangun User Experience yang Responsif: Mengimplementasikan Optimistic UI
Pernahkah Anda menekan tombol “Like” atau “Follow” di media sosial dan melihat perubahannya langsung terjadi tanpa jeda, seolah-olah server merespons secara instan? Padahal, di balik layar, ada request jaringan yang butuh waktu sepersekian detik (atau bahkan lebih lama) untuk mencapai server dan kembali. Nah, pengalaman instan ini seringkali bukan karena kecepatan internet super, melainkan karena implementasi pola desain yang cerdas bernama Optimistic UI.
Sebagai developer web, salah satu tantangan terbesar kita adalah menciptakan aplikasi yang terasa cepat dan responsif. Latensi jaringan, operasi backend yang kompleks, atau sekadar koneksi internet pengguna yang kurang prima, semuanya bisa membuat aplikasi terasa lambat. Di sinilah Optimistic UI datang sebagai penyelamat, mengubah persepsi pengguna tentang kecepatan aplikasi Anda.
Artikel ini akan membawa Anda menyelami apa itu Optimistic UI, kapan harus menggunakannya, dan bagaimana cara mengimplementasikannya secara praktis, terutama dengan contoh menggunakan React. Mari kita bangun aplikasi yang tidak hanya fungsional, tapi juga menyenangkan untuk digunakan!
1. Pendahuluan: Mengapa Kecepatan Persepsi Itu Penting?
Di dunia digital yang serba cepat ini, setiap milidetik berarti. Pengguna modern memiliki ekspektasi tinggi terhadap aplikasi web. Mereka tidak ingin menunggu. Jika aplikasi Anda terasa lambat, bahkan hanya sedikit, ini bisa berdampak negatif pada pengalaman pengguna, tingkat engagement, bahkan konversi.
Masalah utamanya adalah latensi jaringan. Setiap kali pengguna berinteraksi dengan aplikasi yang membutuhkan komunikasi dengan backend (misalnya, mengirim data, mengambil data baru), ada waktu tunda yang tidak bisa dihindari. Jeda ini, meskipun singkat, dapat terasa seperti “lag” atau “hang” bagi pengguna, membuat aplikasi terasa kurang responsif.
🎯 Optimistic UI adalah solusi elegan untuk masalah ini. Alih-alih menunggu konfirmasi dari server bahwa suatu aksi telah berhasil, UI diperbarui secara optimis (berasumsi aksi akan berhasil) segera setelah pengguna melakukan interaksi. Jika ternyata ada kesalahan dari server, UI akan “digulirkan kembali” (rollback) ke keadaan semula dan pengguna akan diberitahu.
Manfaat utama Optimistic UI adalah:
- Peningkatan User Experience (UX): Aplikasi terasa lebih cepat dan responsif.
- Persepsi Kecepatan: Meskipun waktu eksekusi sebenarnya sama, persepsi pengguna jauh lebih baik.
- Mengurangi Frustrasi: Pengguna tidak merasa “terjebak” menunggu.
Mari kita pahami lebih dalam.
2. Memahami Konsep Optimistic UI: “Berharap yang Terbaik”
Bayangkan Anda mengklik tombol “Kirim” pada sebuah formulir. Secara tradisional, aplikasi akan menampilkan indikator loading, menunggu respons dari server, lalu baru memperbarui UI (misalnya, menampilkan pesan sukses atau error).
Dengan Optimistic UI, alurnya sedikit berbeda:
- Aksi Pengguna: Pengguna melakukan interaksi (misalnya, mengklik tombol “Like”).
- Update UI Secara Instan: Aplikasi langsung memperbarui UI seolah-olah aksi tersebut sudah berhasil. Misalnya, tombol “Like” langsung berubah menjadi “Liked”, dan jumlah like bertambah satu.
- Request ke Server di Background: Sementara UI sudah diperbarui, aplikasi mengirimkan request ke backend secara asynchronous di background.
- Menunggu Respons Server:
- Jika Sukses: Yay! Tidak ada yang perlu dilakukan lagi pada UI, karena sudah sesuai dengan state yang diharapkan.
- Jika Gagal: Oh tidak! Terjadi error di backend. Aplikasi akan “menggulirkan kembali” (rollback) UI ke keadaan sebelum aksi dilakukan (tombol “Liked” kembali menjadi “Like”, jumlah like berkurang satu) dan menampilkan pesan error kepada pengguna.
💡 Analogi Sederhana: Bayangkan Anda ingin menyalakan lampu.
- Tanpa Optimistic UI: Anda menekan sakelar, menunggu sejenak (sampai listrik benar-benar mengalir dan lampu menyala), baru kemudian Anda melihat lampu menyala.
- Dengan Optimistic UI: Anda menekan sakelar, dan pada saat yang sama, Anda membayangkan lampu sudah menyala. Jika ternyata lampu tidak menyala (misalnya bohlam putus), baru Anda mengubah bayangan Anda dan mencari tahu masalahnya.
Pola ini sangat efektif untuk interaksi yang diharapkan memiliki tingkat keberhasilan tinggi dan tidak menyebabkan kerusakan besar jika gagal.
3. Kapan Menggunakan dan Kapan Menghindari Optimistic UI?
Meskipun Optimistic UI sangat menarik, bukan berarti bisa diterapkan di semua tempat. Ada skenario ideal dan skenario yang sebaiknya dihindari.
✅ Ideal untuk Skenario Ini:
- Aksi yang Sering dan Non-Krusial:
- Mengklik “Like” atau “Favorite”.
- Mengikuti (Follow) pengguna lain.
- Menambah item ke keranjang belanja (add to cart).
- Mengubah status toggle (misalnya, “read” / “unread” pada email).
- Mengirim komentar atau pesan singkat.
- Aksi dengan Probabilitas Sukses Tinggi: Jika sebagian besar waktu aksi tersebut berhasil di backend, Optimistic UI akan sangat efektif.
- Aksi yang Tidak Memiliki Efek Samping yang Parah Jika Gagal: Jika rollback bisa dilakukan dengan mudah dan kegagalan tidak menyebabkan inkonsistensi data yang fatal atau merugikan pengguna.
❌ Hindari untuk Skenario Ini:
- Aksi Krusial dengan Efek Samping Besar:
- Transaksi Finansial: Membayar, transfer uang. Pengguna harus 100% yakin transaksi berhasil sebelum UI diperbarui.
- Penghapusan Data Permanen: Menghapus akun, menghapus data penting. Konfirmasi server mutlak diperlukan.
- Perubahan Data yang Membutuhkan Validasi Kompleks: Jika backend melakukan banyak validasi dan ada kemungkinan besar gagal karena data yang tidak valid.
- Aksi dengan Probabilitas Sukses Rendah: Jika aksi sering gagal, pengguna akan sering melihat UI “berkedip” bolak-balik, yang justru menimbulkan pengalaman buruk.
- Aksi yang Memerlukan Respons Spesifik dari Server: Misal, server mengembalikan ID unik yang baru dibuat atau data hasil kalkulasi kompleks yang harus ditampilkan.
📌 Penting: Selalu prioritaskan integritas dan konsistensi data. Optimistic UI adalah tentang persepsi, bukan tentang mengabaikan kebenaran data.
4. Implementasi Optimistic UI dalam Praktik (Contoh React)
Mari kita lihat contoh konkret. Kita akan membuat komponen React sederhana untuk tombol “Like” pada sebuah postingan.
import React, { useState } from "react";
function PostLikeButton({ postId, initialLikes, isUserInitiallyLiked }) {
const [likes, setLikes] = useState(initialLikes);
const [isLiked, setIsLiked] = useState(isUserInitiallyLiked);
const [isLoading, setIsLoading] = useState(false);
const [error, setError] = useState(null);
const handleLike = async () => {
if (isLoading) return; // Mencegah double click saat request masih berjalan
setIsLoading(true);
setError(null);
// 1. Simpan state sebelumnya untuk rollback jika gagal
const previousLikes = likes;
const previousIsLiked = isLiked;
// 2. Update UI secara optimis
setLikes(isLiked ? likes - 1 : likes + 1);
setIsLiked(!isLiked);
try {
// 3. Kirim request ke server
const response = await fetch(`/api/posts/${postId}/like`, {
method: "POST",
headers: {
"Content-Type": "application/json",
// Tambahkan header otorisasi jika diperlukan
},
body: JSON.stringify({ action: isLiked ? "unlike" : "like" }),
});
if (!response.ok) {
// Jika server merespons dengan error (misal 4xx, 5xx)
const errorData = await response.json();
throw new Error(errorData.message || "Gagal memperbarui like.");
}
// 4. Jika sukses, tidak perlu update UI lagi karena sudah optimis
console.log("Like berhasil diperbarui di server!");
} catch (err) {
// 5. Jika gagal, rollback UI ke state sebelumnya
setError(err.message);
setLikes(previousLikes);
setIsLiked(previousIsLiked);
console.error("Terjadi error saat update like:", err);
} finally {
setIsLoading(false); // Selesai loading, baik sukses maupun gagal
}
};
return (
<div>
<button
onClick={handleLike}
disabled={isLoading}
style={{
backgroundColor: isLiked ? "#007bff" : "#f0f2f5",
color: isLiked ? "white" : "black",
border: "none",
padding: "8px 16px",
borderRadius: "4px",
cursor: isLoading ? "not-allowed" : "pointer",
opacity: isLoading ? 0.7 : 1,
}}
>
{isLiked ? "❤️ Disukai" : "🤍 Suka"}
</button>
<span style={{ marginLeft: "8px" }}>{likes}</span>
{error && <p style={{ color: "red", marginTop: "8px" }}>{error}</p>}
{isLoading && (
<p style={{ color: "gray", marginTop: "8px" }}>Memperbarui...</p>
)}
</div>
);
}
// Cara penggunaan
function App() {
return (
<div>
<h2>Postingan Saya</h2>
<p>Ini adalah konten postingan yang menarik.</p>
<PostLikeButton
postId="post-123"
initialLikes={10}
isUserInitiallyLiked={false}
/>
</div>
);
}
export default App;
Penjelasan Kode:
- State Management: Kita menggunakan
useStateuntuklikes,isLiked,isLoading, danerror. - Penyimpanan State Sebelumnya: Sebelum melakukan update optimis, kita menyimpan
previousLikesdanpreviousIsLiked. Ini krusial untuk mekanisme rollback. - Update Optimis:
setLikesdansetIsLikeddipanggil segera setelah tombol diklik. UI langsung menunjukkan perubahan. - Request API: Request
fetchdikirim di dalam bloktry...catch. - Penanganan Sukses: Jika
response.ok(status HTTP 2xx), berarti server berhasil. UI sudah sesuai, jadi tidak ada update lagi. - Penanganan Gagal & Rollback: Jika terjadi error (baik dari network atau server merespons dengan status error), blok
catchakan dieksekusi. Di sini, kita menggunakansetLikes(previousLikes)dansetIsLiked(previousIsLiked)untuk mengembalikan UI ke keadaan semula. Pesan error juga ditampilkan. - Loading State:
isLoadingdigunakan untuk mencegah klik ganda dan memberikan feedback visual tambahan.finallymemastikanisLoadingselalu diatur kefalsesetelah request selesai.
5. Penanganan Error dan Rollback yang Efektif
Penanganan error adalah jantung dari Optimistic UI yang andal. Jika rollback tidak dilakukan dengan benar, pengguna akan melihat informasi yang salah.
- Pesan Error yang Jelas: Saat terjadi kegagalan, berikan pesan error yang informatif kepada pengguna. Jangan hanya “Terjadi kesalahan”, tapi “Gagal menyukai postingan ini. Silakan coba lagi.”
- Visual Feedback untuk Rollback: Pastikan perubahan UI yang di-rollback terlihat mulus. Mungkin dengan sedikit animasi atau transisi jika memungkinkan, agar tidak terlalu ‘mengagetkan’ pengguna.
- Strategi Rollback untuk State Kompleks: Untuk state yang lebih kompleks (misalnya array item di keranjang belanja), Anda bisa:
- Menyimpan copy mendalam (deep copy) dari state sebelum perubahan.
- Menggunakan library manajemen state seperti Redux (dengan middleware) atau Zustand, atau React’s
useReduceryang memungkinkan Anda mengirim “aksi rollback” jika request gagal. - Library seperti
react-queryatauswrmemiliki fitur Optimistic Updates bawaan yang sangat kuat, termasuk mekanisme rollback dan revalidation otomatis.
6. Pertimbangan Lanjutan & Best Practices
Setelah menguasai dasar-dasarnya, ada beberapa hal yang bisa Anda pertimbangkan untuk meningkatkan implementasi Optimistic UI Anda:
- Revalidasi Data di Background: Untuk memastikan data selalu konsisten dengan server, terutama jika ada data yang sama di beberapa bagian UI, pertimbangkan untuk melakukan revalidasi data di background. Library seperti
react-queryatauswrsangat powerful dalam hal ini. Setelah optimistic update, mereka bisa secara otomatis melakukanstale-while-revalidate, yaitu menampilkan data lama (optimis) sambil mengambil data terbaru dari server. - Deduplikasi Request: Jika pengguna mengklik tombol dengan sangat cepat, Anda mungkin tidak ingin mengirim banyak request ke server. Gunakan
isLoadingatau mekanismedebounceuntuk mencegah pengiriman request berlebihan. - Konsistensi Global: Jika data yang diubah secara optimis ditampilkan di beberapa tempat (misalnya, jumlah notifikasi di header dan di halaman notifikasi), pastikan semua instance data tersebut diperbarui. Ini biasanya memerlukan penggunaan global state management.
- Testabilitas: Pastikan Anda memiliki unit dan integration test untuk skenario sukses dan gagal dari Optimistic UI Anda. Uji apakah UI di-rollback dengan benar saat ada error.
- Loading Indicator Tambahan: Meskipun Optimistic UI memberikan respons instan, untuk aksi yang mungkin memakan waktu lebih lama di backend atau jika Anda ingin memberikan feedback visual yang lebih jelas, Anda masih bisa menampilkan loading indicator kecil (misalnya spinner) di dalam tombol atau di sampingnya, terutama saat request sedang berjalan.
Kesimpulan
Optimistic UI adalah pola desain yang luar biasa untuk membangun aplikasi web yang terasa cepat dan responsif. Dengan memberikan feedback instan kepada pengguna, Anda dapat secara signifikan meningkatkan pengalaman pengguna dan membuat aplikasi Anda lebih menyenangkan untuk digunakan.
Namun, penting untuk diingat bahwa kekuatan Optimistic UI terletak pada asumsinya: “berharap yang terbaik”. Selalu pertimbangkan konteks aplikasi Anda, probabilitas keberhasilan aksi, dan potensi dampak jika terjadi kegagalan. Dengan penanganan error dan mekanisme rollback yang tepat, Anda bisa memanfaatkan pola ini untuk menciptakan aplikasi yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memberikan kesan yang luar biasa cepat.
Selamat mencoba dan membangun aplikasi yang lebih responsif!