FRONTEND USER-EXPERIENCE PERFORMANCE WEB-PERFORMANCE STATE-MANAGEMENT DESIGN-PATTERNS REACT JAVASCRIPT WEB-DEVELOPMENT API-INTEGRATION OPTIMIZATION

Membangun User Experience yang Responsif: Mengimplementasikan Optimistic UI

⏱️ 11 menit baca
👨‍💻

Membangun User Experience yang Responsif: Mengimplementasikan Optimistic UI

Pernahkah Anda menekan tombol “Like” atau “Follow” di media sosial dan melihat perubahannya langsung terjadi tanpa jeda, seolah-olah server merespons secara instan? Padahal, di balik layar, ada request jaringan yang butuh waktu sepersekian detik (atau bahkan lebih lama) untuk mencapai server dan kembali. Nah, pengalaman instan ini seringkali bukan karena kecepatan internet super, melainkan karena implementasi pola desain yang cerdas bernama Optimistic UI.

Sebagai developer web, salah satu tantangan terbesar kita adalah menciptakan aplikasi yang terasa cepat dan responsif. Latensi jaringan, operasi backend yang kompleks, atau sekadar koneksi internet pengguna yang kurang prima, semuanya bisa membuat aplikasi terasa lambat. Di sinilah Optimistic UI datang sebagai penyelamat, mengubah persepsi pengguna tentang kecepatan aplikasi Anda.

Artikel ini akan membawa Anda menyelami apa itu Optimistic UI, kapan harus menggunakannya, dan bagaimana cara mengimplementasikannya secara praktis, terutama dengan contoh menggunakan React. Mari kita bangun aplikasi yang tidak hanya fungsional, tapi juga menyenangkan untuk digunakan!

1. Pendahuluan: Mengapa Kecepatan Persepsi Itu Penting?

Di dunia digital yang serba cepat ini, setiap milidetik berarti. Pengguna modern memiliki ekspektasi tinggi terhadap aplikasi web. Mereka tidak ingin menunggu. Jika aplikasi Anda terasa lambat, bahkan hanya sedikit, ini bisa berdampak negatif pada pengalaman pengguna, tingkat engagement, bahkan konversi.

Masalah utamanya adalah latensi jaringan. Setiap kali pengguna berinteraksi dengan aplikasi yang membutuhkan komunikasi dengan backend (misalnya, mengirim data, mengambil data baru), ada waktu tunda yang tidak bisa dihindari. Jeda ini, meskipun singkat, dapat terasa seperti “lag” atau “hang” bagi pengguna, membuat aplikasi terasa kurang responsif.

🎯 Optimistic UI adalah solusi elegan untuk masalah ini. Alih-alih menunggu konfirmasi dari server bahwa suatu aksi telah berhasil, UI diperbarui secara optimis (berasumsi aksi akan berhasil) segera setelah pengguna melakukan interaksi. Jika ternyata ada kesalahan dari server, UI akan “digulirkan kembali” (rollback) ke keadaan semula dan pengguna akan diberitahu.

Manfaat utama Optimistic UI adalah:

Mari kita pahami lebih dalam.

2. Memahami Konsep Optimistic UI: “Berharap yang Terbaik”

Bayangkan Anda mengklik tombol “Kirim” pada sebuah formulir. Secara tradisional, aplikasi akan menampilkan indikator loading, menunggu respons dari server, lalu baru memperbarui UI (misalnya, menampilkan pesan sukses atau error).

Dengan Optimistic UI, alurnya sedikit berbeda:

  1. Aksi Pengguna: Pengguna melakukan interaksi (misalnya, mengklik tombol “Like”).
  2. Update UI Secara Instan: Aplikasi langsung memperbarui UI seolah-olah aksi tersebut sudah berhasil. Misalnya, tombol “Like” langsung berubah menjadi “Liked”, dan jumlah like bertambah satu.
  3. Request ke Server di Background: Sementara UI sudah diperbarui, aplikasi mengirimkan request ke backend secara asynchronous di background.
  4. Menunggu Respons Server:
    • Jika Sukses: Yay! Tidak ada yang perlu dilakukan lagi pada UI, karena sudah sesuai dengan state yang diharapkan.
    • Jika Gagal: Oh tidak! Terjadi error di backend. Aplikasi akan “menggulirkan kembali” (rollback) UI ke keadaan sebelum aksi dilakukan (tombol “Liked” kembali menjadi “Like”, jumlah like berkurang satu) dan menampilkan pesan error kepada pengguna.

💡 Analogi Sederhana: Bayangkan Anda ingin menyalakan lampu.

Pola ini sangat efektif untuk interaksi yang diharapkan memiliki tingkat keberhasilan tinggi dan tidak menyebabkan kerusakan besar jika gagal.

3. Kapan Menggunakan dan Kapan Menghindari Optimistic UI?

Meskipun Optimistic UI sangat menarik, bukan berarti bisa diterapkan di semua tempat. Ada skenario ideal dan skenario yang sebaiknya dihindari.

Ideal untuk Skenario Ini:

Hindari untuk Skenario Ini:

📌 Penting: Selalu prioritaskan integritas dan konsistensi data. Optimistic UI adalah tentang persepsi, bukan tentang mengabaikan kebenaran data.

4. Implementasi Optimistic UI dalam Praktik (Contoh React)

Mari kita lihat contoh konkret. Kita akan membuat komponen React sederhana untuk tombol “Like” pada sebuah postingan.

import React, { useState } from "react";

function PostLikeButton({ postId, initialLikes, isUserInitiallyLiked }) {
  const [likes, setLikes] = useState(initialLikes);
  const [isLiked, setIsLiked] = useState(isUserInitiallyLiked);
  const [isLoading, setIsLoading] = useState(false);
  const [error, setError] = useState(null);

  const handleLike = async () => {
    if (isLoading) return; // Mencegah double click saat request masih berjalan

    setIsLoading(true);
    setError(null);

    // 1. Simpan state sebelumnya untuk rollback jika gagal
    const previousLikes = likes;
    const previousIsLiked = isLiked;

    // 2. Update UI secara optimis
    setLikes(isLiked ? likes - 1 : likes + 1);
    setIsLiked(!isLiked);

    try {
      // 3. Kirim request ke server
      const response = await fetch(`/api/posts/${postId}/like`, {
        method: "POST",
        headers: {
          "Content-Type": "application/json",
          // Tambahkan header otorisasi jika diperlukan
        },
        body: JSON.stringify({ action: isLiked ? "unlike" : "like" }),
      });

      if (!response.ok) {
        // Jika server merespons dengan error (misal 4xx, 5xx)
        const errorData = await response.json();
        throw new Error(errorData.message || "Gagal memperbarui like.");
      }

      // 4. Jika sukses, tidak perlu update UI lagi karena sudah optimis
      console.log("Like berhasil diperbarui di server!");
    } catch (err) {
      // 5. Jika gagal, rollback UI ke state sebelumnya
      setError(err.message);
      setLikes(previousLikes);
      setIsLiked(previousIsLiked);
      console.error("Terjadi error saat update like:", err);
    } finally {
      setIsLoading(false); // Selesai loading, baik sukses maupun gagal
    }
  };

  return (
    <div>
      <button
        onClick={handleLike}
        disabled={isLoading}
        style={{
          backgroundColor: isLiked ? "#007bff" : "#f0f2f5",
          color: isLiked ? "white" : "black",
          border: "none",
          padding: "8px 16px",
          borderRadius: "4px",
          cursor: isLoading ? "not-allowed" : "pointer",
          opacity: isLoading ? 0.7 : 1,
        }}
      >
        {isLiked ? "❤️ Disukai" : "🤍 Suka"}
      </button>
      <span style={{ marginLeft: "8px" }}>{likes}</span>
      {error && <p style={{ color: "red", marginTop: "8px" }}>{error}</p>}
      {isLoading && (
        <p style={{ color: "gray", marginTop: "8px" }}>Memperbarui...</p>
      )}
    </div>
  );
}

// Cara penggunaan
function App() {
  return (
    <div>
      <h2>Postingan Saya</h2>
      <p>Ini adalah konten postingan yang menarik.</p>
      <PostLikeButton
        postId="post-123"
        initialLikes={10}
        isUserInitiallyLiked={false}
      />
    </div>
  );
}

export default App;

Penjelasan Kode:

  1. State Management: Kita menggunakan useState untuk likes, isLiked, isLoading, dan error.
  2. Penyimpanan State Sebelumnya: Sebelum melakukan update optimis, kita menyimpan previousLikes dan previousIsLiked. Ini krusial untuk mekanisme rollback.
  3. Update Optimis: setLikes dan setIsLiked dipanggil segera setelah tombol diklik. UI langsung menunjukkan perubahan.
  4. Request API: Request fetch dikirim di dalam blok try...catch.
  5. Penanganan Sukses: Jika response.ok (status HTTP 2xx), berarti server berhasil. UI sudah sesuai, jadi tidak ada update lagi.
  6. Penanganan Gagal & Rollback: Jika terjadi error (baik dari network atau server merespons dengan status error), blok catch akan dieksekusi. Di sini, kita menggunakan setLikes(previousLikes) dan setIsLiked(previousIsLiked) untuk mengembalikan UI ke keadaan semula. Pesan error juga ditampilkan.
  7. Loading State: isLoading digunakan untuk mencegah klik ganda dan memberikan feedback visual tambahan. finally memastikan isLoading selalu diatur ke false setelah request selesai.

5. Penanganan Error dan Rollback yang Efektif

Penanganan error adalah jantung dari Optimistic UI yang andal. Jika rollback tidak dilakukan dengan benar, pengguna akan melihat informasi yang salah.

6. Pertimbangan Lanjutan & Best Practices

Setelah menguasai dasar-dasarnya, ada beberapa hal yang bisa Anda pertimbangkan untuk meningkatkan implementasi Optimistic UI Anda:

Kesimpulan

Optimistic UI adalah pola desain yang luar biasa untuk membangun aplikasi web yang terasa cepat dan responsif. Dengan memberikan feedback instan kepada pengguna, Anda dapat secara signifikan meningkatkan pengalaman pengguna dan membuat aplikasi Anda lebih menyenangkan untuk digunakan.

Namun, penting untuk diingat bahwa kekuatan Optimistic UI terletak pada asumsinya: “berharap yang terbaik”. Selalu pertimbangkan konteks aplikasi Anda, probabilitas keberhasilan aksi, dan potensi dampak jika terjadi kegagalan. Dengan penanganan error dan mekanisme rollback yang tepat, Anda bisa memanfaatkan pola ini untuk menciptakan aplikasi yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memberikan kesan yang luar biasa cepat.

Selamat mencoba dan membangun aplikasi yang lebih responsif!

🔗 Baca Juga