MICRO-FRONTENDS FRONTEND ARCHITECTURE SCALABILITY WEB-DEVELOPMENT DESIGN-PATTERNS DEVELOPER-EXPERIENCE MONOREPO MICROSERVICES MODULAR

Micro-Frontends: Membangun Frontend yang Skalabel dan Mandiri dengan Pendekatan Microservices

⏱️ 9 menit baca
👨‍💻

Micro-Frontends: Membangun Frontend yang Skalabel dan Mandiri dengan Pendekatan Microservices

1. Pendahuluan

Pernahkah Anda bekerja di proyek frontend yang semakin besar, di mana satu perubahan kecil bisa memakan waktu berjam-jam untuk deploy, dan konflik merge code adalah ‘makanan’ sehari-hari? Atau mungkin tim Anda kesulitan berkolaborasi karena semua orang mengerjakan satu codebase raksasa? Jika ya, Anda tidak sendirian. Ini adalah masalah umum yang dihadapi oleh aplikasi frontend monolitik.

Di dunia backend, kita sudah familiar dengan konsep Microservices yang memecah aplikasi besar menjadi layanan-layanan kecil yang independen. Nah, bagaimana jika kita menerapkan filosofi serupa untuk frontend? Selamat datang di dunia Micro-Frontends! 🚀

Artikel ini akan membawa Anda menyelami apa itu Micro-Frontends, mengapa ia menjadi solusi menarik untuk masalah skalabilitas frontend, dan bagaimana kita bisa mulai mengimplementasikannya. Siap memecah monolit frontend Anda? Mari kita mulai!

2. Memahami Tantangan Monolit Frontend

Sebelum kita membahas solusinya, mari kita pahami dulu masalahnya. Mayoritas aplikasi web dimulai sebagai monolit frontend: satu codebase besar, satu tim, satu deployment. Kedengarannya sederhana, kan? Awalnya memang begitu.

Namun, seiring pertumbuhan aplikasi dan tim, monolit frontend mulai menunjukkan gigi taringnya:

Pola-pola ini tidak hanya membebani developer, tetapi juga menghambat inovasi dan kecepatan bisnis.

3. Apa Itu Micro-Frontends?

📌 Definisi: Micro-Frontends adalah pendekatan arsitektur di mana aplikasi frontend dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, independen, dan dapat dikelola secara otonom. Setiap “micro-frontend” dapat dikembangkan, di-deploy, dan diuji secara terpisah oleh tim yang berbeda, bahkan dengan teknologi yang berbeda.

Bayangkan website e-commerce Anda. Alih-alih satu aplikasi besar, Anda mungkin memiliki:

💡 Analogi LEGO: Anggaplah aplikasi frontend Anda adalah sebuah bangunan LEGO raksasa. Dengan monolit, Anda harus membangun seluruh bangunan dari awal setiap kali ingin mengubah satu balok. Dengan Micro-Frontends, setiap fitur adalah satu set LEGO kecil yang bisa dibangun dan diganti secara independen, lalu digabungkan menjadi bangunan yang utuh.

Filosofi di balik Micro-Frontends adalah “vertical slice” atau “cross-functional team”, di mana satu tim bertanggung jawab penuh atas satu fitur end-to-end, mulai dari database, API backend, hingga UI frontend-nya.

4. Manfaat Mengadopsi Micro-Frontends

Mengapa Anda harus mempertimbangkan Micro-Frontends? Ada beberapa keuntungan signifikan:

5. Strategi Implementasi Micro-Frontends

Ada beberapa cara untuk mengintegrasikan micro-frontends menjadi satu aplikasi utuh. Strategi ini terbagi menjadi dua kategori besar: integrasi saat build-time dan integrasi saat run-time.

5.1 Integrasi Saat Build-Time

Ini adalah pendekatan yang paling sederhana, di mana micro-frontends dikompilasi menjadi satu bundle saat build.

5.2 Integrasi Saat Run-Time

Ini adalah pendekatan yang lebih umum dan fleksibel, di mana micro-frontends digabungkan di browser saat aplikasi berjalan atau di server sebelum dikirim ke browser.

5.2.1 Client-side Composition

Micro-frontends digabungkan di browser menggunakan JavaScript.

5.2.2 Server-side Composition

Micro-frontends digabungkan di server sebelum halaman dikirim ke browser.

6. Tantangan dan Best Practices Micro-Frontends

Meskipun banyak manfaatnya, mengadopsi Micro-Frontends bukan tanpa tantangan.

⚠️ Tantangan:

🎯 Best Practices:

  1. Membangun Design System: ✅ Ini adalah kunci untuk konsistensi UI/UX. Semua micro-frontend harus menggunakan komponen dari Design System yang sama.

  2. Komunikasi Event-Driven: ✅ Gunakan custom events di browser atau pustaka pub-sub ringan untuk komunikasi antar micro-frontend. Hindari berbagi state secara langsung.

    • Contoh (Custom Event):

      // di micro-frontend-produk
      const event = new CustomEvent("product-added", {
        detail: { productId: "123" },
      });
      window.dispatchEvent(event);
      
      // di micro-frontend-keranjang
      window.addEventListener("product-added", (e) => {
        console.log("Produk ditambahkan:", e.detail.productId);
        // Tambahkan produk ke keranjang
      });
  3. Routing yang Terpusat: ✅ Kelola routing di aplikasi host atau gateway untuk memastikan navigasi yang mulus antar micro-frontend.

  4. Isolasi Kode: ✅ Pastikan setiap micro-frontend mengisolasi CSS dan JavaScript-nya sendiri untuk menghindari bentrok. Shadow DOM (Web Components) atau CSS Modules bisa sangat membantu.

  5. Monorepo untuk Shared Code: ✅ Simpan Design System, utilitas umum, atau konfigurasi CI/CD di dalam monorepo agar mudah diakses dan di-maintain oleh semua tim.

  6. Observability yang Baik: ✅ Dengan banyak bagian bergerak, logging, monitoring, dan tracing menjadi sangat penting untuk memahami performa dan menemukan masalah.

Kesimpulan

Micro-Frontends adalah arsitektur yang kuat dan relevan untuk aplikasi web modern yang kompleks dan dikembangkan oleh tim besar. Dengan memecah monolit frontend menjadi unit-unit yang lebih kecil dan mandiri, kita bisa mencapai skalabilitas tim yang lebih baik, siklus rilis yang lebih cepat, dan fleksibilitas teknologi.

Meskipun ada tantangan, dengan strategi implementasi yang tepat dan mengikuti best practices, Anda bisa membangun aplikasi frontend yang lebih tangguh, mudah dikelola, dan siap menghadapi masa depan. Jadi, jika Anda mulai merasakan sakit kepala karena monolit frontend Anda, mungkin ini saatnya untuk mempertimbangkan pendekatan Micro-Frontends!

🔗 Baca Juga